web analytics

PSBB Pekanbaru Konon

Ibu Simbolon, ditinggal Pak Rusli suaminya yang meninggal dengan status PDP. Meninggal pada 10 April 2020 sebagai PDP Covid19 di Pekanbaru, sampai saat ini belum diterima kabar mendiang positif atau negatif Covid19. Posko Bersama Pekanbaru – Riau memberikan bantuan Sembako (beras, mie instan, gula, teh, kopi, sarden kaleng) dan sejumlah uang kepada Ibu Simbolon yang tinggal di rumah sangat sederhana papan dan kayu.
Hidup sendiri dirumah tersebut dengan bercocok tanam sayur disekitar “gubug”nya yang sebelumnya bersama-sama suaminya yang juga akrab dipanggil Ateng. Sebagai orang jawa-medan yang tidak bermarga, Pak Ateng semasa hidupnya berprofesi sebagai buruh serabutan, kuli bangunan dan bertani bersama istrinya yang akrab jg dipanggil Inang Simbolon.

Setali tiga uang, Mbah Kromo, seorang kakek yang tinggal juga selemparan batu dari Posko Bersama Pekanbaru – Riau menghadapi hal yang lebih kurang sama. Walau Mbah Kromo tidak berkutat dengan status PDP, kehidupan Simbah pengayuh sepeda ini juga bercocok tanam. Ubi, jagung, pisang, dll. Semasa mudanya, Mbah Kromo menjadi Buruh bangunan dan serabutan. Namun, Usia tidak berkata bohong, walaupun terlihat perkasa berladang dan bersepeda setiap hari, tubuh rentanya tetap menyeruak seperti semburat senja.

Pagi itu tetiba suara akrab Mbah Kromo memanggil. Seperti biasa, setelah panem, dengan sepedanya Simbah menjajakan hasil ladangnya dari rumah ke rumah. Kebetulan disebelah posko adalah salahsatu rumah yang sering disinggahi Mbah Kromo menjual hasil panennya. Lalu posko membeli beberapa bungkus jualannya. Karena Simbah tidak memakai masker, relawan posko langsung memakaikan masker kain yang sisa beberapa helai di Posko. Beras yang tinggal 5 kg yang ada di posko pun kami berikan, dengan senyum khasnya, simbah lalu memasukan beras kedalam kardus tempat jualaannya sambil mengucapkan terimakasih dengan lirih.

Dua kisah yang antitesa dengan status PSBB Pekanbaru. Betapa tidak, seharusnya kalangan seperti Ibu Simbolon dan Mbah Kromo ini sudah mendapat Bantuan dari pemerintah Kota yang memberlakukan PSBB semenjak 5 hari lalu. PSBB Pekanbaru yang timpang ini terkesan ambigu. 5 hari status hanya 5 hari status hanya seperti marching force, deklarasi diberbagai media, timb gabungan keliling kota dan menghadang di jalan-jalan raya. Padahal Covid19 bukan maling ayam yang akan takut pasukan berseragam itu. Jom.. realisasi PSBB secepatnya bukan statusnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published.