web analytics
Loading...
Home / Artikel / Penjelasan Gus Baha’ Tentang Jihad

Penjelasan Gus Baha’ Tentang Jihad

gus baha’

Dalam sebuah seminar di Pondok Pesantren Sidogiri, Gus Baha tidak pernah meminta santri Madura. Seminar tema ini adalah ayat-Qital yang membahas tentang ayat-ayat perang di dalam Alquran.

Pesertanya adalah para santri yang sudah pandai baca buku Arab. Kata Gus Baha ‘, panitia sudah menyiapkannya jauh-jauh hari, tiga tahun sebelumnya. Berharap seminar ini benar-benar serius membahas ilmu.

Di Pesantren Sidogiri, ada banyak santri yang dimiliki Madura. Baik orang asli Madura bukan berasal dari Madura tetapi bahasa sehari-hari Madura. Moderatornya pun orang Madura. Cerita singkat ada santri yang bertanya kepada Gus Baha dengan logat Madura.

“Gus, ini bagaimana kita mau berperang? Jika kita diam saja, perang, maka orang Islam tidak akan menentang orang kafir. Tapi kalau kita mau berjihad, saya bisa ditangkap sama pak Jokowi. ”Tanya santri Madura tersebut.

Gus Baha menjawab pertanyaan tersebut dengan bertanya balik, “Kang, perang berani mati di zaman modern seperti ini situasinya apa? Kalau dulu zaman Rasulullah, jelas perangnya. Yang dilawan Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka jelas-jelas salah dan Rasulullah benar.

“Kalau sekarang ini kan ndak jelas. Potensinya sama. Sama-sama benar dan sama-sama shalat. Kamu ini mukminnya abal-abal. Musuhnya juga mukminnya abal-abal. Yang perang takbir. Yang diperangi juga takbir. Dalam Islam itu bisa membunuh jika kita diancam nyawa kita. Bagaimana jika tidak membunuh kita akan dibunuh. Lah, ini kita mau perang atas nama apa? Atas nama harga diri? ”Tanya Gus Baha.

“Di zaman modern ini, kita tidak boleh membiarkan diri kita mengambil sikap ekstrim. Jika di zaman Nabi dulu sikap harus diambil ekstrim. Karena yang diperangi jelas-jelas orang yang mau ngajak perang. Jadi jihad zaman Nabi itu jelas. Nabi pasti benar. Dan lawannya pasti salah. Justru jika tidak mau ikut perang malah menjadi munafik. ”

Intinya ayat-ayat yang membahas tentang perang itu adalah konteksnya adalah orang Islam pasti benar dan musuhnya pasti salah pada zaman nabi dulu. “Di zaman akhir ini yang berlaku, ra’yunaas shawab yahtamilul khata ‘. Wara’yuka lkhata ‘yahtamilus shawab. Pendapat kita benar tetapi mungkin salah. Pendapatmu juga benar tapi mungkin salah. Karena samar-sama maka hukumnya juga tidak bisa jelas.

Untuk itu dalam kehidupan sehari-hari kita pakai hukum sosial yang berlaku. Ada orang baik ya dibaiki. Jika ada yang buruk, maka tidak perlu diperangi. Menggerutu seperlunya karena kecewa tidak apa-apa. Tidak perlu perang. Karena zaman Rasulullah kondisinya berbeda dengan sekarang. ”

“Perang setelah zaman Rasulullah semuanya rumit,” kata Gus Baha. Pertarungan antar sahabat mengandung potensi kebenaran di antara partisipan. Misalnya perang antara Sayyidina Ali dan Muawiyah. Itu sekelas sahabat Nabi. Bagaimana dengan sekarang? Apa ada sekelas sahabat nabi sehingga percaya diri paling benar menerima jalan ekstrim seperti perang? (alif.id/rizal mubit)

 

Loading...

Check Also

gus baha

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim AlHafizh – Gus Baha

Sabdacyber.com – Prof. Quraisy Syihab berkata “Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *