web analytics

Animal Welfare dalam Jeruji Kebun Binatang

Home / Remukan Rengginang / Animal Welfare dalam Jeruji Kebun Binatang
animal welfare

Animal Welfare dalam Jeruji Kebun Binatang – Perjuangan akan perlakukan yang layak terhadap satwa semakin gencar dilakukan. Pada tingkat otoritas, lembaga konservasi, bahkan komunitas-komunitas kecil berlomba menyuarakan “Animal Welfare”. Bagaimana pandangan tentang Animal Welfare menurut si Somplak Remukan rengginang seperti saya?

Jadi begini ceritanya, Animal Welfare berarti Kesejahteraan Hewan. Kesejahteraan akan apa? Yaitu kesejahteraan yang dijamin dengan standar “baik”. Ada 5 hal yang menjadi  kebutuhan yang harus didapatkan oleh Hewan. Yaitu, bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidak nyamanan lingkungan, bebas dari penyakit, bebas dari rasa takut dan tekanan, bebas mengekspresikan perilaku alamnya. Nah, perjuangan hak itu menjadi tolak ukur tercapainya kriteria “Animal Welfare”.

Tunggu sebentar, coba kita menelisik posisi hewan dalam kehidupan sosial di masyarakat Indonesia. Melihat catatan dan tradisi lisan di nusantara, hewan mempunyai posisi yang tinggi. Hutan, tumbuhan, dan hewan yang mempunyai kriteria khusus, menjadikan mereka dihormati, dijaga dan bahkan dicintai Alam Semesta.

Hutan Keramat, Pohon Keramat, dan bahkan Hewan Keramat yang sangat dihormati masyarakat. Kita ambil contoh di Riau dan sekitarnya, Gajah dan harimau di panggil “Datuk” oleh masyarakat. Adalah sebuah penghormatan terhadap mereka berikut dengan aturan-aturan adat terkait mereka.

Tidak jauh beda juga dengan di Jawa, penyebutan “Kyai” atau “Ki” kepada sesuatu yang dihormati, pada hewan yang memang disandangkan gelar tersebut karena penghormatannya karena alasan tertentu. Bukan karena menyembahnya, tapi wujud penghormatan yang mencerminkan budaya luhur nusantara terhadap alam semesta.

Walaupun ada beberapa budaya yang menggunakan hewan atau tumbuhan sebagai media prosesi adat, tetapi pada hal lainnya budaya nusantara pada umumnya sangat konservatif. Latar belakang budaya tersebut sepertinya sudah sangat cukup menjelaskan penghormatan masyarakat nusantara pada alam.

Baru-baru ini, tepatnya pada desember 2017 hingga saat tulisan ini di-upload, ada masalah yang mencuat ke publik tentang pengelolaan Kebun Binatang Kasang Kulim Pekanbaru. Beredar foto dan berita dari beberapa media keadaan satwa disana yang kurus dan memperihatinkan.

Tetapi, tulisan ini tidak membahas benar atau salahnya berita tersebut. Atau, becus atau tidaknya pengelola mengurus kebun binatang tersebut. Dan juga bukan untuk membahas berhasil atau tidaknya otoritas setempat sebagai Pembina Kebun Binatang tersebut. Lhaa terus mbahas apa?

Kebetulan sebelum berita itu heboh, Saya bersama anak dan istri saya mengunjungi kebun binatang tersebutpada tanggal 25 Desember 2017. Dari pukul 09.00 – 12.30 WIB kami mengelilingi tempat tersebut. Memang, beberapa keadaanya identik dengan pemberitaan yang ada. Rusa dan kuda kurus, iya, tetapi gambar yang saya dapat berbeda dengan apa yang berbeda di media. Beberapa perilaku hewan memang terlihat bosan dengan melakukan perilaku yang berulang dan stereotype. Ketika ada pengunjung yang mendekat maka hewan akan menjulurkan tangannya seakan-akan meminta makan.

Lalu bagaimana menyikapi ini? Jawabannya satu, dengan ikut serta…. Mengajak orang datang dan membeli tiketnya. Kalau mau dibilang mismanagement mungkin betul, minimal pada tataran manajemen pemasarannya. Pengelola gagal mengajak orang untuk datang kesana. Terbukti dengan banyaknya orang pekanbaru disekitar saya yang tidak pernah datang, bahkan tidak tertarik sama sekali untuk datang kesana. Nah, pengelolaan kebun binatang itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Banyak terjadi kasus terlantarnya hewan di kebun binatang itu karena berawal pengelola yang gagal mengajak orang untuk datang dan membeli tiketnya. Walhasil, minimnya pendapatan menjadikan mereka kesulitan ekonomi dalam pengelolaannya.

Lha tapi bukannya kebun binatang itu tidak bisa menjamin “Animal Welfare”? Umumnya iya.. tapi ketika manajemennya melakukan pengelolaan dengan baik, serta dengan pengawasan dan pendampingan masyarakat dan otoritas yang kontinyu maka saya rasa bisa saja. Karena latar belakang pembuatan kebun binatang itu banyak fungsinya. Yaitu kebun binatang harus punya fungsi Konservasi dan Edukasi. Di beberapa kebun binatang di Indonesia, kebun binatang juga bekerja sama dengan otoritas terkait untuk menjadi penampungan satwa yang di”tangkap” untuk kemudia dikelola.

Contohnya satwa yang dikembalikan pemiliknya yang tidak sanggup lagi mengurus, satwa liar yang masuk ke wilayah pemukiman warga, atau satwa yang terjaring dari perjualan illegal, yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilepasliarkan. Dan fungsi edukasi sangat penting untuk mengenalkan masyarakat akan flora dan fauna yang ada.

Tapi ada orang yang sangat menentang keberadaan kebun binatang, apakah punya solusi lain atas fungsi-fungsi kebun binatang tadi? Yang jelas, bahasan Animal Welfare diantara Balada Konflik Manusia dengan Hewan akan terus berlangsung. Karena apa? “perebutan lahan” meningkatnya populasi manusia berbanding lurus dengan kebutuhan lahan dan sumber daya alam. Itu berdampak langsung terhadap ekologi dan habitat satwa liar dihutan. Konflik manusia dan hewan akan terus terjadi.

Apakah yang menentang kebun binatang itu punya solusi untuk itu? Untuk hewan yang dievakuasi dari pemukiman warga yang tidak mungkin lagi dilepas liarkan, untuk hewan-hewan yang diserahkan pemiliknya karena tidak mampu memelihara lagi, untuk terus berkurangnya habitat mereka. Lalu kalua iya kasang kulim harus ditutup, mau dikemanakan hewan yang disana? Mau dilepaskan kehutan begitu saja? Atau mau dilepaskan ke hutan kota?

 

animal welfare
Ayo ke Kebun Binatang. (Kartun: Eko Faizin)

 

Keadaan Satwa di kebun binatang yang berada di Kebun Binatang bukan hanya kewajiban pengelola dan pemerintah untuk menjaga. Tapi juga tanggung jawab kita. Jika mereka malnutrisi, mungkin butuh bantuan kita untuk berpartisipasi.

Jadi sebenarnya bagaimana masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengelolaan kebun binatang. Dengan Ayo Ke Kebun Binatang, dengan membeli tiketnya, ikut mengawasi, dan berpartisipasi pada pengelolaan tersebut.

#ayokekebunbinatang

Ary Sandy – Remukan Rengginang

Leave a Reply

Your email address will not be published.